Thursday, June 14, 2007

Pajeksan's Concord Water

Terus terang, saya tergelitik untuk sedikit memberi pencerahan kepada salah satu rekan saya yang sangat penasaran tentang "Air Kedamaian" di Pajeksan.

Begini..
Sebagian besar anak muda yang pernah hidup di Jogja, hobi kluyuran, sedikit senang hepi-hepi dan sedikit bisa baca tulis pasti tahu apa hubungannya Kampung Pajeksan dan 'Air Kedamaian'.

Sah-sah saja jika Anda ingin membayangkannya seperti danau air Zamzam di tengah gurun yang panas. Juga tak ada yang melarang jika Anda ingin membayangkannya seperti air kehidupan yang baru akan keluar dengan proses manusiawi tertentu. Saya bukan pakar di bidang ini. Mungkin lebih tepat jika dokter Boyke yang menjelaskannya.

Di Jogja memang tak banyak sumber air yang begitu diminati banyak masyarakat seperti halnya sumber air di Pajeksan ini. Di samping sering dijadikan sumber air untuk kedamaian umat, sumber air ini juga tak jarang dijadikan sumber ekonomi bagi masyarakat arus bawah. Home industri air kedamaian ini entah siapa yang pertama mempopulerkannya.

Menurut catatan pribadi, sejauh ini memang belum pernah diadakan studi historis tentang asal usul mencuatnya air kedamaian di Pajeksan ini. Namun jika dilihat secara geografis, munculnya air kedamaian ini mungkin bisa dikaitkan dengan keadaan Pajeksan yang tak begitu jauh dengan Keraton Yogyakarta.

Pada jaman dahulu kala, keraton Yogyakarta merupakan salah satu pusat peradaban Jawa yang cukup tersohor. Artinya saat itu seputar keraton Yogyakarta pernah menjadi salah satu pusat ekonomi yang patut diperhitungkan bagi saudagar-saudagar dari berbagai penjuru. Titik pusat ekonomi ini tentu juga tak luput dari perhatian kaum tertentu yang sedikit menganut paham kapitalis. Meski saya yakin saat itu buku-buku yang menceritakan tentang kapitalisme belum berdedar di sana. Sedikit kaum kapitalis inilah yang saya rasa mulai mengenalkan kepada masyarakat tentang budaya foya-foya dan juga budaya pesta pora.

Jika dilihat dari nilai-nilai luhur budaya Jawa secara umum, masyarkat jawa tidak hobi dengan sesuatu yang berbau pesta pora, apalagi menghambur-hamburkan kemewahan. Muspro, istilah Jawa-nya. Namun hal itulah yang justru menjadi tantangan para kapitalis, yang kalau boleh saya terka merupakan orang2 VOC, atau orang-orang pribumi yang telah terpengruh oleh budaya penjajah. Dengan sedikit sentuhan pencitraan diri, diramu dengan pembentukan opini publik maka tak sulit untuk mempengaruhi karakter orang Jawa waktu itu.

Ditambah dengan keadaan ekonomi yang masih apa adanya, plus pendapatan perkapita yang tak terlalu tinggi maka mudah saja penjajah Belanda untuk menjalankan propagandanya. Sistem kekeluargaan yang begitu erat pada masanya waktu itu, sedikit banyak mempermudah budaya kapitalis ini merasuk ke dalam masyarakat Jawa. Maka tak heran jika masa itu banyak orang-orang pribumi yang berstatus tuan tanah, dan mempekerjakan sesama orang pribumi tanpa mempedulikan hak asazinya. Pelanggaran HAM antarpribumi pun menjadi hal yang lumrah. Siapa berkuasa dialah berkehendak, seperti banyak tergambar dalam film-film silat Indonesia lama.

Selain itu, di dalam budaya Jawa juga banyak paradigma jawaisme yang saya pikir saat itu dimanfaatkan secara maksimal oleh penjajah. Orang Jawa memang secara luas dikenal sebagai seseorang yang memiliki rasa toleransi (tepo seliro) yang tinggi. Dan penjajah sepertinya sadar betul dengan kondisi ini. Entah diprakarsai oleh salah satu tokoh, ataupun didapat dari hasil penelitian departemen litbang penjajah maka strategi memecah pribumi dengan memasukkan unsur kapitalis ini mereka jalankan dengan all out. Karena menurut mereka toh orang Jawa, apalagi orang2 desa berpenghasilan rendah, tak berpendidikan, beranak banyak dan pengabdi yang setia, akan memaklumi kondisi yang ada. Mereka pikir, seluruh masyarakat Jawa akan menjalankan paradigma 'nrima ing pandum'nya. Hasilnya, sesuai dengan apa yang dapat kita baca di buku sejarah. Banyak orang Jawa yang cukup bos, menjadi crew-nya penjajah. Tentu saja dengan hubungan timbal balik yang setara.

Kembali ke Pajeksan,
Budaya pra-hedonisme yang merupakan turunan dari budaya kapitalispun lambat laun merasuk sebagian kecil masyarakat Jawa. Mereka juga mengenal adanya paradigma 'makan gak makan asal kumpul'. Nah, dengan berbekal kondisi yang ada, maka penjajahpun secara politis mulai memasukkan unsur fly, hura-hura dan hedon style ke dalam masyarakat Jawa. Cukup manusiawi.. Sebagai makhluk sosial, tentu saja orang Jawa juga harus berhubungan satu dengan yang lainnya. Termasuk dalam hal ini adalah berkumpul-kumpul, nongkrong, dan sejenisnya.

Satu alasan bahwa mereka tidak makanpun kumpul, lalu apa yang mereka kerjakan? Gosip selebriti atau membicarakan isu seputar wallstreet tentu bukan jawaban yang masuk akal untuk saat itu. Kumpul-kumpul, ece-ece nan, gojeg kere, ketawa ketiwi, cekakak cekikik, merupakan pengisi waktu luang yang cocok bagi anak muda Jawa. Dan jika dikombinasikan dengan minum-minum, maka bagi sebagian mereka adalah seperti merupakan sebuah kesempurnaan.

Peluang inipun segera ditangkap oleh penjajah. Orang Jawa juga selalu ditekankan bahwa hidup ini hanyalah sekedar mampir minum. Urip mung mampir ngombe.. Dan lagi-lagi dengan sedikit ilmu public relation sederhana dan pendekatan persuasif yang intensif maka tak sulit untuk menggalang massa agar sedikit memodifikasi paradigma mereka dari 'urip mung mampir ngombe' menjadi 'urip mung mampir ngombe-ngombe'. Hidup hanyalah mampir minum-minum.. Dan tentu saja minum sesuatu yang memabukkan, atau minimal sedikit fly..

Dan sepertinya penjajah sekali lagi harus menepuk dada karena keberhasilan mereka. Budaya minum yang ditularkan oleh penjajah ini mulai kelihatan efeknya. Bagi penjajah dan kelas borju lain, mungkin wine-wine buatan Eropa, liqueur semacam Lichido, Cointreau, Creme de Noyaux, Glayva, Grand Marnier atau sejenisnya sudah menjadi hal yang biasa. Tapi tentu saja tidak dengan para kaum marjinal yang berstatus kere hore. Dan salah satu solusinya adalah, menciptakan ramuan khusus yang efeknya kalau diminum menyerupai minuman-minuman kelas high-end tersebut. Maka dengan itu, terciptalah ramuan 'Air Kedamaian' ala Pajeksan yang menurut bahasa niaga biasa disebut 'Lapen Pajeksan' ini.

Hingga saat ini Kampung Pajeksan dan 'Air Kedamaian' seakan-akan merupakan satu kesatuan. Bagai dua sisi mata uang..Menurut catatan pribadi, hingga saat ini belum ada sumber terpercaya yang bisa menjawab pertanyaan mengapa Pajeksan begitu populer dengan Air Kedamaiannya. Ada yang tertarik untuk meneliti? Atau mungkin bisa juga ditarik benang merah dengan Congyang Semarang, atau Ciu Solo..

2 comments:

Anonymous said...

haha..rupamu su!! ra ngelingi jaman liquid mbiyen.gara2 temon wae le lotse sakkemenge nganti dugap pol..hahaha

Anonymous said...

tropis lek..ayo

mr ^B